Minggu, 22 Januari 2017
Info Islami: Inilah 3 Kalimat yang Tertulis Pada Kusen Pintu Su...
Info Islami: Inilah 3 Kalimat yang Tertulis Pada Kusen Pintu Su...: image from: hiveminer.com Kalimat baik tentunya mencerminkan pada prilaku baik. Sebaliknya, kalimat buruk akan menghasilkan keburukan ...
Senin, 17 Oktober 2016
Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Indonesia : Legenda Batu Menangis
Syahdan
hiduplah seorang janda miskin pada masa lampau, Mak Dasah namanya. Ia tinggal
di
sebuah gubug reyot di pinggir hutan. Mata pencahariannya sehari-hari adalah
bekerja di ladang sempit peninggalan mendiang suaminya. Sepulang dari
berladang, Mak Dasah biasa mencari kayu bakar di hutan. Kayu-kayu bakar itu
lantas dijualnya di perkampungan penduduk yang jauh letaknya dari tempat
tinggalnya.
Mak
Dasah mempunyai seorang anak gadis. Jelita namanya. Sesuai namanya, wajah
Jelita amatlah cantik. Sayang, Jelita sangat pemalas. Hari-harinya
dihabiskannya untuk berdandan dan bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan
dirinya. Meski berulangu kali Mak Dasah mengingatkan agar dia merubah
kelakuannya itu, namun Jelita
enggan
menuruti nasihat ibunya. Ia tetap sangat malas, enggan membantu kerepotan
ibunya.
Selain
pemalas, Jelita juga sangat manja. Apapun yang dikehendakinya harus dituruti
ibunya. Jika tidak dituruti, Jelita akan marah¬marah. Meski begitu buruk
kelakuan anaknya, Mak Dasah tetap sayang dengan anak perempuannya itu. Meski
sangat kerepotan, namun Mak Dasah akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi
setiap permintaan Jelita. Namun, Jelita senantiasa meminta dan terus meminta,
dia tidak peduli dengan keadaan ibunya.
Pada
suatu hari Mak Dasah mengajak Jelita ke pasar. Jelita mau diajak ke pasar
dengan mem¬berikan syarat, "Aku tidak mau berjalan bersama dengan Ibu. Ibu
harus berjalan di belakangku." Mak Dasah terpaksa menuruti permintaan
anak
gadisnya itu.
Jelita
berangkat ke pasar dengan mengenakan pakaian terbaru sekaligus terbaik yang
dimilikinya. Ia juga berdandan secantik-cantiknya seperti jika ia hendak
menghadiri sebuah pesta. Ia lantas berjalan di depan ibunya yang mengenakan
pakaian lusuh. Ibu dan anak itu begitu jauh berbeda dalam penampilan hingga
orang yang tidak mengenal mereka tentu tidak akan menyangka jika mereka
sesungguhnya ibu dan anak.
Tersebutlah
seorang pemuda yang bertanya pada Jelita, "Wahai gadis cantik, apakah
wanita berbaju lusuh yang berjalan di belakangmu itu ibumu?"
Jelita
sejenak memandang pemuda yang bertanya padanya Tampan wajah pemuda itu. Melihat
ketampanan pemuda itu, Jelita tiba-tiba merasa sangat malu mengakui Mak Dasah
selaku ibu kandungnya. "Bukan!" katanya. "Ia bukan ibuku,
melainkan pembantuku."
Betapa
sedih dan sakit hati Mak Dasah ketika mendengar jawaban anak perempuannya.
Dinasihatinya agar Jelita tidak berani lagi berkata seperti itu. "Jelita,
anakku. Aku ini ibumu, orang yang melahirkanmu. Sungguh, sangat durhaka
kelakuanmu jika engkau berani menganggapku sebagai pembantumu! Sadarlah engkau,
wahai anakku."
Namun,
Jelita tak menganggap nasihat ibu¬nya. Ia bahkan kian menjadi-jadi. Kepada
orang-orang yang bertanya padanya selama dalam perjalanan itu, Jelita
senantiasa tegas menjawab jika perempuan tua yang berjalan di belakangnya itu
adalah pembantunya.
Hati
dan perasaan Mak Dasah sangat seperti teriris sembilu. Ketika ia tidak lagi
dapat menahan kesakitan hatinya, berdoalah Mak Dasah, kepada Tuhan, "Ya
Tuhan, hamba tidak lagi menahan penghinaan anak harnba ini! benar telah membatu
hati anak hamba ini, karena itu, Ya Tuhan, hukumlah anak hamba durhaka itu
menjadi batu!"
Doa Mak
Dasah dikabulkan.
Tak
berapa lama kemudian kedua kaki Jelita berubah menjadi batu. Jelita sangat
takut. Betapa mengerikannya perasaan yang dialaminya ketika mendapati kedua
kaki berubah menjadi batu. la kian ketakutan mendapati pinggangnya pun berubah
membatu. Sadarlah ia, semua itu terjadi karena kedurhakaan besarnya kepada
ibunya. Maka dia pun berteriak-teriak, "Mak, ampuni aku! Ampuni aku!
Ampuni kedurhakaan anakmu ini, Mak"
Namun,
semuanya telah terlambat bagi Jelita. Mak Dasah hanya terdiam. Sama sekali Mak
Dasah tidak berusaha mengabulkan permohonan anaknya yang telah berbuat durhaka
terhadapnya. Ia merasa telah cukup mengalami penderitaan yang diakibatkan
anaknya itu. Hingga akhirnya seluruh tubuh Jelita berubah menjadi batu.
Batu
jelmaan Jelita itu terus meneteskan air seperti air mata penyesalan yang
menetes dari mata Jelita. Orang-orang yang mengetahtui adanya air yang terus
menetes dari batu itu kemudian menyebutnya Batu Menangis
Pesan Moral Dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Indonesia Batu
Menangis adalah Durhaka terhadap kedua orang tua akan berbuah kemurkaan Tuhan
kepada pelakunya. Kita hendaknya senantiasa menghormati orangtua dan patuh
terhadap nasihat mereka.
Diambil
dari http://dongengceritarakyat.com/
Kumpulan-Kumpulan Cerita Rakyat : Legenda Pulau Nusa
Tersebutlah seorang lelaki bernama Nusa. Ia tinggal di pinggir
Sungai Kahayan bersama istri dan adik iparnya. Nusa setiap hari menggarap sawah
dan juga menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Suatu ketika terjadi musim kemarau yang terus berkepanjangan.
Sungai dan mata air mengering. Aneka tanaman merenggas dan layu. Seperti halnya
warga lainnya, Nusa merasakan kesulitan yang sangat dalam musim kemarau yang
berkepanjangan itu. Tanaman di sawahnya layu dan mati, diapun kesulitan untuk
mencari ikan di sungai yang surut airnya itu. Nusa pun berkehendak untuk pindah
ke daerah lain yang masih mempunyai sumber air untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih balk. Setelah menyiapkan bekal secukupnya, Nusa mengajak istri dan adik
iparnya untuk berangkat. Dengan menaiki sebuah perahu kecil, mereka menuju
hilir Sungai Rungan.
Perjalanan mereka menuju hilir Sungai Rungan itu tidak dapat
lancar mereka lakukan. Sebatang pohon besar yang tumbang menghalangi laju
perahu mereka. Satu-satunya cara agar mereka dapat meneruskan perjalanan adalah
memotong batang pohon besar itu. Nusa dan adik iparnya segera bekerja memotong
batang pohon itu dengan kapak. Sangat besar batang pohon itu hingga Nusa dan
adik iparnya harus bekerja keras selama berjam-jam. Akibatnya, Nusa merasa
lapar yang sangat. Nusa berkehendak mencari makanan di hutan untuk menghemat
bekal mereka yang tidak seberapa. Nusa lalu mengajak adik iparnya menuju hutan.
Nusa menemukan telur yang cukup besar. Sekitar dua kali ukuran
telur angsa. Nusa tidak mengetahui telur apa yang ditemukannya itu. Ia kemudian
merebus telur itu dan memakannya sendirian karena istri dan adik iparnya tidak
mau memakannya. Istrinya bahkan menyarankan agar Nusa tidak memakan telur itu.
Namun, Nusa tetap bersikeras untuk memakannya.
Di tengah malam, Nusa terbangun dari tidurnya. Ia merasakan
tubuhnya gatal luar biasa. Di sekujur tubuhnya juga terlihat bintik- bintik
kemerah-merahan. Nusa telah menggaruk bagian-bagian tubuhnya, namun tidak juga
mereda rasa gatal yang dirasakannya. Segera dibangunkannya istri dan adik
iparnya untuk membantunya menggaruk. Namun demikian, Nusa tetap merasa gatal.
Berbagai cara telah dilakukan, tetap juga rasa gatal yang dirasakan Nusa itu
tidak juga berkurang. Adik ipar Nusa yang kebingungan lantas mencari bantuan ke
perkampungan terdekat.
Keesokan paginya tubuh Nusa mengalami perubahan yang sangat
mengejutkan. Bintik-bintik berwarna kemerah-merahan di sekujur tubuh Nusa telah
berubah menjadi sisik-sisik. Tubuh Nusa dari bagian perut hingga kaki telah
juga memanjang hingga menyerupai bentuk naga. Hanya bagian wajah hingga dadanya
saja yang masih menyerupai manusia. Dalam keadaan seperti itu Nusa pun berujar
pada istrinya, "Aku rasa, semua yang terjadi pada diriku ini bermula dari
telur yang kumakan. Telur itu tentu telur naga. Sungguh, aku menyesal karena
tidak mendengarkan nasihatmu. Namun, bagaimanapun halnya, penyesalanku tidak
lagi berguna. Tuhan telah menakdirkan aku menjadi naga. Aku harus menerima
takdirku ini"
Istri Nusa hanya bisa bersedih hati mendapati kejadian yang
menimpa suaminya. Sementara warga yang dimintai tolong adik ipar Nusa akhirnya
berdatangan. Mereka terheran-heran mendapati wujud Nusa tanpa bisa melakukan
suatu tindakan apapun untuk menolong Nusa.
Di hadapan semuanya, Nusa berpesan, malam nanti akan turun hujan
yang sangat lebat disertai angin badai yang dahsyat. Guntur dan petir akan
sambar-menyambar: Air sungai Rungan akan meluap hingga membanjiri daerah-daerah
di sekitar sungai Rungan itu. Nusa juga berpecan agar istrinya, adik iparnya,
dan juga segenap warga mengungsi ke daerah yang aman. Nusa lantas meminta agar
tubuhnya yang telah berubah menjadi naga dengan panjang lebih dari tiga kali
pohon kelapa itu digulingkan ke sungai. Ia tidak tahan dengan terik panas sinar
matahari. Naga jelmaan Nusa itu lantas berenang menuju muara Sungai Kahayan.
Pesan Nusa terbukti benar. Pada malam harinya keadaan di daerah
itu persis seperti yang dipesankan Nusa. Hujan turun sangat deras, angin badai
dahsyat menerjang, diiringi guntur dan petir yang sambung-menyambung. Permukaan
Sungai Rungan terus meninggi dengan cepat. Banjir pun terjadi. Ketinggian air
di daerah itu bahkan melebihi tingginya pepohonan. Istri Nusa, adik ipar Nusa,
dan warga yang mendengarkan pesan Nusa dapat selamat setelah mengungsi di
tempat yang aman.
Banjir besar di Sungai Rungan menyebabkan tubuh Nusa terbawa
arus hingga akhirnya ia tiba di Sungai Kahayan. Sebelum menuju lautan luas,
Nusa berkehendak berdiam di sebuah teluk yang dalam. Ia pun memangsa ikan-ikan
yang berada di teluk itu. Ikan-ikan yang berdiam di muara Sungai Kahayan itu
menjadi cemas dengan kehadiran Nusa. Dengan nafsu makannya yang luar biasa,
para ikan khawatir, Nusa akan memangsa mereka semua. Para ikan lantas bertemu
dan berunding untuk mencari cara agar terbebas dari malapetaka yang diakibatkan
Nusa itu. Ikan saluang tampil dengan rencananya yang akhirnya disetujui oleh
para ikan.
Ikan saluang lalu menghampiri Nusa untuk mewujudkan rencananya.
Ia sebutkan kepada Nusa, bahwa di laut luas ada seekor naga besar yang hendak
menantang Nusa. Katanya, "Tuan Naga, naga di laut itu ingin mengadu
kesaktian dengan Tuan untuk membuktikan siapa naga terkuat."
Nusa sangat geram mendengar laporan ikan saluang. "Seberapa
besar naga di taut itu?" tanyanya.
"Sesungguhnya naga itu tidak sebesar Tuan Naga," jawab
ikan saluang. "Namun keberaniannya sungguh luar biasa tinggi. Ia sangat
terusik dengan kehadiran Tuan Naga di muara Sungai Kahayan ini. Menurut kabar
yang saya dengar, naga itu tengah menuju ke muara Sugai Kahayan ini untuk
menyerang Tuan Naga!"
Bertambah-tambah kegeraman Nusa. Ingin segera didatanginya naga
itu dan mengadu kekuatan dengannya. Namun, ikan saluang menyarankan agar Nusa
menunggu saja di muara Sungai Kahayan itu. "Hendaklah Tuan Naga menyimpan
tenaga untuk menghadapi naga besar itu di tempat ini. Jika Tuan Naga mencarinya
di Laut luas, bisa jadi Tuan Naga akan ketelahan. Bukankah naga itu bisa
mengalahkan Tuan Naga jika Tuan Naga ketelahan?"
Nusa setuju dengan saran ikan saluang. Berhari-hari Nusa terus
menunggu kedatangan naga besar dari taut dengan sikap waspada. Selama menunggu
itu ia tidak berani tidur. Ia khawatir naga di laut itu akan menyerangnya
ketika ia tengah tertidur. Karena telah berhari-hari tidak tidur, Nusa menjadi
sangat mengantuk. Tertidurlah ia tak lama kemudian.
Ketika mengetahui Nusa tertidur, ikan saluang mendekati ekor
Nusa. Berteriaklah ia sekeras¬kerasnya, "Bangun Tuan Naga! Musuhmu telah
datang! Musuhmu telah datang!"
Nusa terperanjat mendengar teriakan ikan saluang. Cepat ia
memutarkan kepalanya. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat air sungai
bergolak-golak. Ia menyangka bergolaknya air sungai itu disebabkan kedatangan
musuhnya yang akan menyerangnya. Padahal, bergolaknya air itu disebabkan oleh
gerakan ekornya sendiri. Nusa langsung menyerang. Digigitnya ekornya sendiri
yang disangkanya musuhnya itu hingga ekornya terputus!
Nusa menjerit kesakitan ketika ekornya putus. Ikan saluang
segera memanggil ikan-ikan lainnya untuk menggigiti luka pada tubuh Nusa. Nusa
yang tidak berdaya kian kesakitan akibat gigitan ikan-ikan itu. Kekuatan
tubuhnya terus melemah dan ia pun akhirnya tewas setelah kehabisan darah.
Seluruh ikan terus memangsa dagingnya hingga hanya tersisa tulang-belulang
Nusa.
Tulang-belulang Nusa akhirnya tertimbun oleh lumpur dan tanah.
Aneka pepohonan kemudian tumbuh di tempat itu hingga akhirnya terbentuk sebuah
pulau. Warga menyebut pulau di muara Sungai Kahayan itu dengan nama Pulau Nusa.
Pesan Moral dari Kumpulan-Kumpulan
Cerita Rakyat : Legenda Pulau Nusa adalah kita hendaklah mendengarkan saran dan
nasihat orang lain demi kebaikan diri kita sendiri. Orang yang keras kepala
dengan mengabaikan saran kebaikan akan merasakan kerugian sendiri di kemudian
hari.
Diambil dari
http://dongengceritarakyat.com/
Kumpulan Cerita Rakyat Asal Mula Pulau-Pulau di Tobelo
Imam
Jafar Nuh adalah penguasa Kesultanan Ternate yang hidup pada zaman dahulu.
Sultan Jafar beristrikan seorang hidadari dari Kahyangan yang kecantikan
wajahnya tidak ada yang menandinginya.
Pada
suatu hari datanglah adik permaisuri Sultan Jafar Nuh dari Kahyangan. Gajadean
namanya. Ia bermaksud menjenguk kakaknya. Beberapa saat tinggal di istana
Kesultanan Ternate, Gajadean merasa betah. Akhirnya, Gajadean bahkan enggan
kembali ke Kahyangan. Mendapati sikap adik iparnya itu Sultan Jafar Nuh lantas
berkehendak mengangkat Gajadean sebagai sangaji (artinya : Penguasa suatu
wilayah yang berada di hawah kekuasaan kesultanan atau kerajaan)
Kata
Sultan Jafar Nuh, "Aku hendak mengangkatmu sebagai sangaji di Tobelo.
Engkau berhak menyandang gelar selaku sultan."
"Terima
kasih, Kanda," jawab Gajadean,
"Namun
yang perlu engkau perhatikan, sebag ai sangaji engkau berkewajiban nnenyerahkan
upeti ke Kesultanan Ternate seperti halnya para sangaji lainnya."
Gajadean
menyatakan kesanggupannya untuk mematuhi pesan Sultan Jafar Nuh. Tidak herapa
lama kemudian Gajadean pun menuju Tobelo dan segera membenahi daerah kekuasaan
barunya itu. la mendirikan sebuah istana yang megah dan memperkuat pertahanan
tobelo dengan mengangkat para prajurit juga menunjuk dua orang yang telah
ternama kesaktian dan ketangguhannya selaku kapitan. Keduanya adalah Kapitan
Metalomo dan Kapitan Malimadubo. Dalam pemerintahan Gajadean yang adil dan
bijaksana, Tobelo pun menjadi daerah yang maju. Rakyat Tobelo lebih makmur dan
sejahtera dibandingkan sebelumnya. Rakyat Tobelo sangat menghormati dan
mematuhi perintah Gajadean. Terlebih-lebih mereka juga mengetahui jika sangaji
mereka itu berasal dari Kahyangan.
Sesuai
janji yang diucapkannya pada Sultan Jafar Nuh, setiap tahun Gajadean senantiasa
mengirimkan upeti ke Kesultanan Ternate. Upeti itu berupa beras, kelapa, dan
hasil pertanian lainnya. Gajadean langsung memimpin penyerahan upeti itu.
Syandan,
Gajadean kembali memimpin penyerahan upeti ke Kesultanan Ternate. Setelah
menyerahkan upeti, Gajadean berniat kembali ke Tobelo. Sangatlah marah Gajadean
ketika mendapati terompah2 yang semula dikenakannya tidak lagi ada di tempatnya
semula. la telah memerintahkan pengawal dan prajurit pengiringnya untuk
mencari, namun terompah kesayangannya itu tidak juga ditemukan. Tanpa lagi
mengenakan alas kakinya, Gajadean kembali pulang ke Tobelo. Ia sangat yakin,
Sultan Jafar Nuh telah mengambil terompah kesayangannya. Ia sangat marah dan
ingin membalas perlakuan kakak iparnya yang diyakininya mengambil
terompah kesayangannya itu.
Setibanya
di Tobelo, Gajadean terus memikirkan terompah indah kesayangannya itu. Setiap
kali la memikirkan, kebenciarnya pada Sultan Jafar Nuh kian membesar. Dendamnya
pada kakak iparnya itu kian menjadi-jadi. Tersulut oleh dendam dan
kemarahannya. Gajadean lantas memerintahkan segenap rakyat Tobelo untuk
mengumpulkan kotoran mereka dan memasukkannya pada guci-guci besar. Perintah
tersebut sesungguhnya membuat rakyat Tobelo keheranan, kebingungan, dan serasa
tidak habis mengerti. Namun demikian, mereka patuh menjalankan perintah Sultan
Gajadean tersebut.
Selama
setahun segenap rakyat Tobelo mengisi guci-guci besar itu dengan kotoran mereka
yang bau lagi menjijikkan tersebut. Hingga waktu penyerahan upeti ke Kesultanan
Ternate pun tiba. Gajadean kembali ke Kesultanan Ternate untuk menyerahkan
upeti. Bukan beras, kelapa, dan aneka hasil pertanian rakyat Tobelo seperti
biasanya yang dikirimkan ke Kesultanan Ternate, melainkan guci-guci besar
berisi kotoran rakyat Tobelo.
Seperti
tidak menyimpan dendam dan kemarahan, Gajadean berbincang-bincang akrab dengan
Sultan Jafar Nuh setibanya ia di Kesultanan Ternate. Setelah penyerahan upeti
itu selesai, Gajadean beserta rombongan Tobelo pun meminta diri untuk kembali
ke Tobelo.
Sepeninggal
Gajadean, Sultan Jafar Nuh memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk membuka
upeti dari Tobelo sebelum disimpan di lumbung kerajaan. Betapa terperanjatnya
Sultan Jafar Nuh setelah mendapati isi guci-guci besar itu. Seketika itu
kemarahannya pun meluap. Ia merasa kehormatannya selaku sultan sangat
dilecehkan adik iparnya.
"Ini
sebuah penghinaan!" seru Sultan Jafar Nuh dengan kemarahan meninggi.
"Secara nyata Gajadean dan rakyat Tobelo telah meruntuhkan kehormatanku
dan Kesultanan Ternate. Penghinaan dan pelecehan kehormatan ini harus dibalas!
Kita akan gempur Tobelo untuk menunjukkan kehormatan dan kewibawaan Kesultanan
Ternate!"
Peperangan
antara Kesultanan Ternate dan Tobelo pecah, berlangsung sangat sengit. Seiring
berlalunya sang waktu, semakin sengit peperangan itu. Dengan mengerahkan siasat
dan strategi perang tertentu, akhirnya Kesultanan Ternate dapat mengalahkan
kekuatan Tobelo pendukung Sultan Gajadean.
Setelah
mengalami kekalahan, kekuatan Tobelo menjadi centang-perenang. Sebagian dari
mereka terpaksa harus berlari ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri. Sebagian
yang lain harus bersembunyi di bukit dan gunung untuk menghindarkan diri dari
serangan prajurit-prajurit Kesultanan Ternate. Sultan Gajadean pun turut
mengungsi. Entah mengungsi ke mana adik ipar Sultan Jafar Nuh tersebut hingga
keluarga maupun para prajurit Tobelo kemudian yang berusaha mencarinya tidak
menemukannya. Berbagai usaha telah dilakukan, namun keberadaan Sultan Gajadean
tidak ditemukan.
Kapitan
Metalomo dan Kapitan Malimadubo segera menggalang kekuatan. Keduanya tetap
berniat menegakkan pemerintahan di Tobelo. Karena keberadaan Sultan Gajadean
tidak juga diketemukan, keduanya memimpin pemerintahan Tobelo secara sementara.
Hingga akhirnya mereka semua kembali ke Tobelo setelah kekuatan prajurit
Kesultanan Temate kembali pulang.
Sultan
Gajadean tetap juga tidak ditemukan dan juga tidak kembali ke Tobelo. Kapitan
Metalomo dan Kapitan Malirnadubo beserta rakyat Tobelo lantas bersepakat untuk
menentukan sultan baru sebagai pengganti Sultan Gajadean. Secara utuh mereka
bersepakat menunjuk Kobubu, anak lelaki Sultan Gajadean, menjadi sultan Tobelo
yang baru. Keadaan di Tobelo pun berangsur-angsur membaik setelah Kobubu
menjalankan pemerintahannya.
Syandan
pada suatu hari, Mama Ua, anak perempuan Sultan Gajadean, pergi ke pantai
dengan diiringi dayang-dayang dan juga para prajurit pengawal. Setibanya di
pantai, Mama Ua melantunkan sajak:
Papa Ua
nyao deo
abunga
manyare-nyare
Toma
buku molitebu
(Orang
yang tidak berkeluarga, seperti ikan di tepi pantai, di pinggir pantai di kaki
gunung)
Keajaiban
pun terjadi setelah Mama Ua mengakhiri sajaknya. Mendadak muncullah gugusan
pulau di depan wilayah Tobelo. Pulau-pulau itu membentang dari wilayah Mede
hingga di depan wilayah Tobelo.
Pesan Moral dari Kumpulan Cerita Rakyat Legenda Nusantara Asal
Mula Pulau-Pulau di Tobelo adalah Suatu masalah hendaklah diselidiki baik-baik
dan kemudian dicarikan jalan keluarnya secara baik-baik. Kecerobohan dalam
memutuskan sesuatu dapat menyebabkan munculnya masalah baru yang jauh lebih
besar dampak buruknya.
Diambil dari
http://dongengceritarakyat.com/
Naga Sabang & Dua Raksasa Seulawah
Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit.Diselat itu tinggal lah seekor naga bernama Sabang.Pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru dipimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam dipimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejamkepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.
Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia
berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu dihalangi oleh Naga Sabang,
sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai. Maka
pada suatu hari dipanggil lah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka,
“Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu
dihalangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa
mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru. “Yang mulia, Naga Sabang adalah
penjaga selat Barisan. Kalau naga itu mati maka kedua pulau ini akan menyatu
karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini
selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka. “Aku tidak peduli kedua pulau ini
menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru. “Ada dua
raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata
Tuanku Gurka. “Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan
Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”,
tambah Tuanku Gurka.
Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya. Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, “ Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga. “Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan berguncangan keras dan air laut akan surut, maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga. Sultan Alam menitikkan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.
Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya. Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, “ Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga. “Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan berguncangan keras dan air laut akan surut, maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga. Sultan Alam menitikkan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.
Maka pada waktu yang
sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan
kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikan
pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah
Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga. Kemudian raksasa seulawah
Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan
tubuh naga itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah tubuh naga itu jatuh terbujur di
laut lepas.
Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, ”Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!” panggil Sultan Alam. “Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.
Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai. Tak lama setelah gempa berhenti kemudian air laut surut sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.
Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira dihantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadian mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.
Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangun sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.
Wildan Seni [wildanseni @yahoo.com] Mahasiswa S2 Disaster Magister Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, ”Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!” panggil Sultan Alam. “Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.
Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai. Tak lama setelah gempa berhenti kemudian air laut surut sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.
Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira dihantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadian mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.
Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangun sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.
Wildan Seni [wildanseni @yahoo.com] Mahasiswa S2 Disaster Magister Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
Disalin ulang dari CeritaAnak.org
Lutung Kasarung
Pada jaman dahulu di daerah pasundan ada seorang raja yang bernama Prabu
Tapak Agung. Beliau memimpin wilayahnya dengan sangat bijaksana, sehingga
dicintai oleh rakyatnya. Sang raja mempunyai dua orang putri yang cantik. Yang
tertua bernama Purbararang, dan adiknya bernama Purbasari.
Suatu hari, saat mendekati akhir hayatnya, sang raja meminta Purbasari putri
bungsunya untuk menggantikan posisinya memimpin kerajaan. "Anakku, aku
sudah lelah dan terlalu tua untuk memimpin, jadi sudah saatnya aku turun tahta,"
kata sang raja. Purbararang, yang merupakan kakak dari Purbasari, tidak setuju
dengan perintah ayahnya tersebut. Dia merasa bahwa karena dia adalah anak
tertua, maka dia lah yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai
pemimpin kerajaan.
Purbararang yang sangat geram dan iri tersebut kemudian berencana untuk mencelakakan adiknya. Purbararang pergi menemui seorang nenek sihir. Dia meminta nenek sihir tersebut untuk memanterai adiknya. Akibat dari mantera nenek sihir itu cukup parah. Purbasari tiba-tiba kulitnya menjadi bertotol-totol hitam, dan itu lah yang dijadikan alasan oleh Purbararang untuk mengusirnya dari istana. "Pergi dari sini!" kata Purbararang kepada adiknya. "Orang yang telah dikutuk seperti kamu tidak layak untuk menjadi seorang ratu, bahkan tidak layak untuk tinggal di sini!" lanjutnya.
Purbararang lalu menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan adiknya itu ke tengah hutan. Dengan berat hati, Patih tersebut menuruti perintahnya. Namun, di tengah hutan, sang Patih yang sebenarnya baik hati itu tidak langsung meninggalkannya. Dibuatkannya sebuah pondok untuk Purbasari. Sebelum pergi, dia juga menasehati sang putri yang malang itu, memintanya agar selalu tabah dan sabar.
Selama tinggal di hutan, Purbasari tidak pernah merasa kesepian. Sang putri yang baik hati itu berteman dengan banyak hewan, yang juga selalu baik kepadanya. Di antara ratusan hewan yang menjadi temannya, ada seekor kera dengan bulu berwarna hitam yang misterius. Di antara hewan-hewan lainnya, kera tersebut lah yang paling perhatian dan paling baik hati kepada Purbasari. Kera tersebut bahkan sering membawakan bunga dan buah-buahan untuk menghibur hati sang putri. Purbasari lalu memberi nama kera itu Lutung Kasarung.
Purbararang yang sangat geram dan iri tersebut kemudian berencana untuk mencelakakan adiknya. Purbararang pergi menemui seorang nenek sihir. Dia meminta nenek sihir tersebut untuk memanterai adiknya. Akibat dari mantera nenek sihir itu cukup parah. Purbasari tiba-tiba kulitnya menjadi bertotol-totol hitam, dan itu lah yang dijadikan alasan oleh Purbararang untuk mengusirnya dari istana. "Pergi dari sini!" kata Purbararang kepada adiknya. "Orang yang telah dikutuk seperti kamu tidak layak untuk menjadi seorang ratu, bahkan tidak layak untuk tinggal di sini!" lanjutnya.
Purbararang lalu menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan adiknya itu ke tengah hutan. Dengan berat hati, Patih tersebut menuruti perintahnya. Namun, di tengah hutan, sang Patih yang sebenarnya baik hati itu tidak langsung meninggalkannya. Dibuatkannya sebuah pondok untuk Purbasari. Sebelum pergi, dia juga menasehati sang putri yang malang itu, memintanya agar selalu tabah dan sabar.
Selama tinggal di hutan, Purbasari tidak pernah merasa kesepian. Sang putri yang baik hati itu berteman dengan banyak hewan, yang juga selalu baik kepadanya. Di antara ratusan hewan yang menjadi temannya, ada seekor kera dengan bulu berwarna hitam yang misterius. Di antara hewan-hewan lainnya, kera tersebut lah yang paling perhatian dan paling baik hati kepada Purbasari. Kera tersebut bahkan sering membawakan bunga dan buah-buahan untuk menghibur hati sang putri. Purbasari lalu memberi nama kera itu Lutung Kasarung.
Pada suatu malam, saat
bulan purnama, kera yang menjadi teman Purbasari tersebut pergi ke tempat yang
sepi untuk bersemedi. Setelah cukup lama bersemedi, tiba-tiba tanah di dekat
tempatnya bersemedi mulai mengeluarkan air yang jernih dan harum, yang kemudian
membentuk sebuah telaga kecil.
Keesokan harinya, kera tersebut meminta Purbasari untuk mandi di telaga kecil itu. Walaupun awalnya merasa ragu, Purbasari menuruti permintaannya. Hal yang ajaib pun terjadi. Setelah mandi, tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bersih seperti semula. Sang putri pun menjadi cantik jelita seperti sedia kala. Purbasari sangat terkejut dan merasa sangat gembira karena kecantikannya telah pulih.
Di hari yang sama, Purbararang yang jahat tiba-tiba berniat ingin melihat keadaan adiknya di hutan. Dia pun pergi ke hutan bersama tunangannya dan beberapa orang pengawal kerajaan. Saat melihat kondisi adiknya yang sudah kembali cantik, Purbararang terkejut. Tapi, putri yang jahat itu tidak menyerah. Dia mengajak adiknya untuk adu panjang rambut. Siapa yang rambutnya lebih panjang, dia lah yang menang. Ternyata, rambut Purbasari lebih panjang, jadi dia lah yang menang.
Purbararang masih belum menyerah. Ia kemudian mengajak Purbasari untuk adu tampan tunangan, lalu ditunjukkannya tunangannya yang tampan. Purbasari kebingungan karena dia tidak memiliki tunangan. Dia pun langsung menarik monyet sahabatnya. Purbararang tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. "Jadi tunanganmu seekor monyet?" ledeknya dengan sinis.
Tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Monyet sahabat Purbasari berubah menjadi seorang pemuda yang gagah dan berwajah sangat tampan, jauh lebih tampan dari tunangan Purbararang. Para pengawal yang melihat hal tersebut terheran-heran dan bersorak gembira karena putri yang baik hati menang. Purbararang mengaku kalah, mengakui kesalahannya, dan meminta maaf. Purbasari yang baik hati tidak dendam dan tidak menghukum kakaknya yang jahat itu.
Purbasari kemudian menjadi seorang ratu yang memimpin kerajaannya dengan bijaksana, ditemani oleh pemuda pujaan hatinya, yang dulu selalu menemaninya dengan setia dalam wujud seekor lutung.
Keesokan harinya, kera tersebut meminta Purbasari untuk mandi di telaga kecil itu. Walaupun awalnya merasa ragu, Purbasari menuruti permintaannya. Hal yang ajaib pun terjadi. Setelah mandi, tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bersih seperti semula. Sang putri pun menjadi cantik jelita seperti sedia kala. Purbasari sangat terkejut dan merasa sangat gembira karena kecantikannya telah pulih.
Di hari yang sama, Purbararang yang jahat tiba-tiba berniat ingin melihat keadaan adiknya di hutan. Dia pun pergi ke hutan bersama tunangannya dan beberapa orang pengawal kerajaan. Saat melihat kondisi adiknya yang sudah kembali cantik, Purbararang terkejut. Tapi, putri yang jahat itu tidak menyerah. Dia mengajak adiknya untuk adu panjang rambut. Siapa yang rambutnya lebih panjang, dia lah yang menang. Ternyata, rambut Purbasari lebih panjang, jadi dia lah yang menang.
Purbararang masih belum menyerah. Ia kemudian mengajak Purbasari untuk adu tampan tunangan, lalu ditunjukkannya tunangannya yang tampan. Purbasari kebingungan karena dia tidak memiliki tunangan. Dia pun langsung menarik monyet sahabatnya. Purbararang tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. "Jadi tunanganmu seekor monyet?" ledeknya dengan sinis.
Tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Monyet sahabat Purbasari berubah menjadi seorang pemuda yang gagah dan berwajah sangat tampan, jauh lebih tampan dari tunangan Purbararang. Para pengawal yang melihat hal tersebut terheran-heran dan bersorak gembira karena putri yang baik hati menang. Purbararang mengaku kalah, mengakui kesalahannya, dan meminta maaf. Purbasari yang baik hati tidak dendam dan tidak menghukum kakaknya yang jahat itu.
Purbasari kemudian menjadi seorang ratu yang memimpin kerajaannya dengan bijaksana, ditemani oleh pemuda pujaan hatinya, yang dulu selalu menemaninya dengan setia dalam wujud seekor lutung.
Disalin dari CeritaAnak.org
Senin, 17 November 2014
Mengatasi Pikiran Negatif
Sebenarnya aku lagi flu nih jadi kalau untuk mengawali kurang asik yak.... tapi kalau gak sekarang kapan lagi (hehhehehe...iklan apa yak?).
Sambil nyuri waktu kerja aku mo cerita (mikir dulu). Ahaa... tahu juga deh... (apasih gw). Aku mo cerita tentang gimana caranya menghilangkan atau setidaknya mengangkal pikiran negatif. KAn gak enak dalam benak kita kalau berpikiran jelek mulu ma orang...capek bo..kurus entar hehehe...
Aku dah lama sih dapet artikel tentang 9 teknik melawan pikiran negatif dari portal indospiritual, ini dia akan ku uraikan sekarang;
menurut mbak Jessica Padykula, beliau menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif adalah sebagai berikut:
1. Hidup di saat ini.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.
2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.
3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.
4. Jangan berdiam diri.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.
5. Fokus pada hal-hal positif.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.
6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.
7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.
8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.
9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.
Sambil nyuri waktu kerja aku mo cerita (mikir dulu). Ahaa... tahu juga deh... (apasih gw). Aku mo cerita tentang gimana caranya menghilangkan atau setidaknya mengangkal pikiran negatif. KAn gak enak dalam benak kita kalau berpikiran jelek mulu ma orang...capek bo..kurus entar hehehe...
Aku dah lama sih dapet artikel tentang 9 teknik melawan pikiran negatif dari portal indospiritual, ini dia akan ku uraikan sekarang;
menurut mbak Jessica Padykula, beliau menyarankan sembilan teknik untuk mencegah dan mengatasi pikiran negatif adalah sebagai berikut:
1. Hidup di saat ini.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.
2. Katakan hal positif pada diri sendiri
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.
3. Percaya pada kekuatan pikiran positif
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.
4. Jangan berdiam diri.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.
5. Fokus pada hal-hal positif.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.
6. Bergeraklah
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.
7. Hadapi rasa takutmu
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.
8. Coba hal-hal baru
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan ya pada kehidupan Anda membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.
9. Ubah cara pandang
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.
Langganan:
Postingan (Atom)